“Wahai Tuhan kami! Kurniakanlah kami rahmat dari sisiMu, dan berilah kemudahan-kemudahan serta pimpinan kepada kami untuk keselamatan ugama kami”. - ayat 10 alKahfi

Radikal



Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Rancunya Istilah Islam Radikal (1)


Jumat, 29/04/2011 16:21 WIB | email | print




“Bangsa Indonesia saat ini menghadapi ancaman serius terkait dengan terorisme, kekerasan horizontal, dan radikalisasi yang terus terjadi di sejumlah tempat. Jika tak ditanggulangi secara serius, kondisi ini bisa berdampak pada harmoni kehidupan bangsa ke depan.” [1]


Ucapan ini penulis ambil ketika SBY berhadapan dengan seluruh Menteri Kabinet Indonesia Bersatu II, para Gubernur, dan walikota seluruh Indonesia saat Musyawarah Perencanaan Pembangunan Nasional di Jakarta, hari kamis kemarin. Ucapan ini tentu tidak lain adalah respon dari pemerintah terkait isu terorisme yang kini marak. Oleh karenanya dalam kesempatan itu pula, Presiden SBY juga berharap kepada pemuka agama untuk berperan aktif dalam mencegah gerakan yang menodai dan merusak ajaran agama.


Namun sayangnya, dalam kesempatan itu, SBY tidak merinci lebih jauh definisi sebenarnya dari radikalisme. Sebab, kita sekarang berada pada suatu masa, dimana kebenaran dan kekeliruan menjadi kabur. Istilah radikal dikonstruk sedemikian negatif dan kemudian dilekatkan kepada seluruh gerakan Islam yang memiliki visi pemurnian akidah, penegakkan syariat dan negara Islam, serta tidak lagi tersekat hanya pada organisasi sesat seperti NII KW IX saja. [2]


Walhasil, klaim-klaim radikal dan Islam seakan menjadi dua kutub yang tidak terpisahkan. Stigmatisasi Barat terhadap Timur menjadi genderang yang wajib didengarkan ketimbang umat Islam itu sendiri. Implikasinya, ajaran Islam menjadi redusi.

Maka itu ucapan radikal dari SBY disini perlu kirannya diluruskan dan menjadi tanda kutip bagi kita semua bahwa betulkah radikalisme identik dengan Islam?


Islam Radikal: Kerancuan Istilah


Setelah Samuel Huntington mengeluarkan tesis bahwa Islam akan menjadi musuh baru Barat setelah komunisme runtuh [3], semangat Perang Salib jilid II bagai kembali berkobar. Penelitian-penlitian tentang Islam berlangsung begitu pesat. Istilah Radikalisme menjadi hal lumrah untuk menyudutkan Islam.[4]


Tak tanggung-tanggung Al Zastrouw sampai menyatakan bahwa radikalisme adalah (pasti) gerakan yang menyatakan Islam adalah satu-satunya sumber penyelesaian atas berbagai problem kemanusiaan, dan hanya dengan gerakan itulah mereka bisa mempertahankan eksistensi dan martabat Islam. [5]




Prolematikanya adalah kata radikalisme disini pasti merujuk ke Islam dan cenderung meresahkan. Padahal dalam sejarahnya kata Radikalisme sama sekali tidak terkait akan misi Islam dan memang tidak lahir dari rahim Islam.


Paul Krassner dalam tulisannya "An impolite intervire with Mort Sahl", di majalah The Realist tahun 1963 menyatakan asal muasal istilah Radical digunakan pada abad ke-18 bagi para pendukung Gerakan Radikal. Istilah radikal kemudian menjadi istilah yang sangat umum semata-mata untuk merendahkan kelompok yang mendukung atau mencari reformasi politik, termasuk perubahan dramatis terhadap tatanan sosial.


Dalam sejarahnya, tujuan awal dari gerakan radikal adalah untuk meraih kebebasan dan melakukan reformasi besar-besaran dalam pemilu Inggris. Gejala ini kemudian bergeser ke Amerika dan Perancis yang kemudian diterjemahkan mereka lewat dengan nama revolusi (Baca: Revolusi Perancis dan Amerika).


Pada awalnya, kelompok radikal mengidentifikasikan dirinya sebagai pihak yang paling kiri dalam menentang basis politik kanan, baik itu kaum Orleanis dan Bonapartisdi Perancis pada abad kesembilan belas. [6]


Dalam perkembangannya, radikalisme kemudian terserap dalam pengembangan liberalisme politik, pada abad ke-19 baik di Inggris dan benua Eropa. Dan kemudian istilah Radikal ini justru datang untuk menunjukkan ideologi liberal yang progresif.


Oleh karenanya, di beberapa negara Istilah radikalisme adalah bagian dari liberalisme seperti terjadi di Swiss, Jerman, Bulgaria, Denmark, Italia, Spanyol dan Belanda, termasuk juga Argentina, Chile dan Paraguay. Pada Negara-negara tersebutlah kaum liberal sayap kiri justru mengusung ideologi radikal dengan berbagai nama.


Menariknya baik di benua Eropa maupun Amerika latin, radikalisme dikembangkan sebagai sebuah ideologi radikal sangat anti agama. Mereka mendukung liberalisme, bahkan sekularisme. Di Inggris, misalnya, para radikal bersatu dengan para liberal daripada Whig Party di dalam Liberal Party.


Di negara lain termasuk Bulgaria, Denmark, Spanyol, Belanda, Argentina dan Chile, para liberal bersayap kiri mengasas parti politik radikal mereka yang mempunyai pelbagai nama; di Switzerland dan di Jerman, parti itu diberi nama Freisinn.




Oleh karenanya menjadi aneh dan rancu, jika istilah radikal justru dikaitkan kepada Islam dan gerakan Islam. Karena Islam mengharuskan hambanya untuk taat kepada Allahuta’la. Sedangkan dalam sejarahnya, kaum radikal justru memisahkan antara Negara dan agama (baca: sekularisme) sebagai pilar kehidupan.


Islam menjadikan nilai dan tatanan kehidupan sebagai sumber yang tetap, yakni ajaraNya. Sedangkan radikalisme menjadikan relativitas sebagai prinsip dan tujuan.


Lalu kalau sudah begini: apakah tidak salah ketika mengatakan radikalisme bersumber dari ajaran Islam dan Islam itu radikal? (pz/bersambung)


Foto: Ilustrasi


Catatan Kaki


[1] Harian Kompas, Jangan Biarkan Radikalisme, Jum’at 29 April 2011.


[2] Setara Institute dalam penelitian yang berjudul “Radikalisme Agama di Jadebotabek & Jawa Barat: Implikasinya terhadap Jaminan Kebebasan Beragama/Berkeyakinan,” mencatat bahwa Indonesia saat ini dalam kondisi memprihatinkan.


Tahun 2007, Setara mencatat terdapat 185 jenis tindakan dalam peristiwa 135 kebebasan beragama dan berkeyakinan. Penelitian yang diselenggarakan dari tahun 2007-2010 inipun menimbulkan polemik di kalngan umat Islam.


Tahun 2008, terdapat 367 tindakan di 265 peristiwa. Tahun 2009, masih dalam survey Setara, terdapat 291 tindakan untuk 200 peristiwa. Tahun 2010, tidak kurang 175 peristiwa. Dan uniknya, menurut data penelitian itu, nyaris semua pelanggaran, selalu berhubungan dengan organisasi-organisasi Islam radikal.


[3] Melalui bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), Huntington mengarahkan Barat untuk memberikan perhatian khusus kepada Islam. Menurutnya, di antara berbagai peradaban besar yang masih eksis hingga kini hanyalah Islam yang berpotensi besar menggoncang peradaban Barat, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah.


[4] Selain istilah radikalisme, Barat juga menyebut dengan fundamentalisme. Lihat William Montgmery Watt, Islamic Fundamentalism And Nodernity, T.J. Press (Padstow)

Ltd, London, 1998, hlm.2.


Fundamentalisme juga berarti anti-pembaratan (westernisme). Lihat juga Fazlur rahman, Islam And Modernity, The University of Chicago Press, Chicago, 1982, hlm.136.


[5] Lihat Al-Zastrouw Ng, Gerakan Islam simbolik: Politik Kepentingan FPI, (Yogyakarta: LKiS, 2009) hlm. 4.


[6] Rezim Bonapartis adalah rezim yang sungguh otoriter. Mereka menjadikan rakyatnya sebagai konsumen. Pemerintah terkesan cuci tangan dalam mengurus warganya, sehingga tak jarang rakyat dalam rezim bonapartis menjadi korban ulah negara (state neglect)yang tak terurus.


Bagi rezim ini, kebijakan sosial hanya digunakan oleh kelompok elite untuk menjaga status quo. Kebijakan Bonapartis cenderung digunakan untuk terus mempertahankan dominasi negara terhadap rakyatnya.


Konsekuensinya, keadaan rakyat tak banyak berubah. Bahkan, cenderung kian memburuk, sengsara, dan menderita. Berbagai kebijakan yang dihasilkan rezim Bonapartis pun tidak memihak rakyatnya karena tidak didasarkan fakta dan realita, tetapi bagaimana tetap berkuasa.


Siapa Radikal, Siapa Teroris?: Rancunya Istilah Islam Radikal (2)



Gerakan Islam sering kali dikait-katikan dengan istilah fundamentalisme. Organisasi-orgnisasi yang mengusung ide kembali kepada syariat Islam mendapatkan sebuah stigma negatif berupa Islam Fundamentalis. [1]

Media-media di Indonesia pun pasca pemberitaan (yang masih simpang siur) akan syahidnya Usamah Bin Laden, langsung mengusung kembali jargon-jargon Islam Fundamentalis lenngkap dengan distorsinya kepada gerakan-gerakan yang terkait Al Qaida.

Di Barat kasusnya hampir ironi. Karen Amstrong yang digadang-gadang sebagai penengah antara Islam dan Barat, masih melekatkan stigma fundamentalis kepada orang seperti Sayyid Quthb hanya karena gagasan Sayyid Quthb yang menolak Demokrasi. [2]

Pun Amerika mereka gemar menyudutkan nama-nama mujahid sebagai gembong yang mengusung Ideologi Islam yang kuat seperti Abul Al Al Maududi, Abdullah Azzam, Syekh Ahmad Yassin hingga Abu Bakar Ba’asyir sebagai gembong Islam fundamentalis.

Padahal, dalam sejarahnya, istilah fundamentalisme sama sekali tidak berkaitan dengan Islam. Sejarah fundamentalisme berawal pada ajaran agama Kristen yang mengembangkan kepercayaan mutlak terhadap wahyu, ketuhanan Al-Masih, mukjizat Maryam yang melahirkan ketika masih perawan, serta kepercayaan lain yang masih diyakini oleh golongan fundamentalis Kristen sampai sekarang. [3]

Lalu dengan begini apakah pas fundamentalisme kemudian dikaitkan kepada Islam? Apakah tepat istilah fundamentalisme menjadi kata tersendiri setelah menyebut nama Islam, sama persis dengan pertanyaan: Apakah pas pula jika dikatakan George Bush adalah seorang Kristen Salafi atau Obama adalah bagian dari kelompok Kristen sekte Tauhid Hakimiyyah? Menjadi rancu.

Fundamentalisme: Pertikaian Kristen, Bukan Islam

Pada konteks aslinya, istilah "fundamentalisme" adalah respon dari gerakan pemurnian teologi Kristen sebagai perlawanan terhadap modernisme. Ia berusaha memurnikan ajaran Kristen yang disusupi oleh sekularisme. Artinya fundamentalisme adalah gerakan kontra terhadap “pembaharuan” yang secara spesifik hanya terjadi pada lingkup Kristen.

Namun, pada penelusuran lebih dalam, James Barr dalam bukunya “Fundamentalism” [4] mengatakan bahwa istilah fundamentalisme bermula dari sebuah esai berjudul "Fundamentals" yang muncul di Amerika sekitar tahun 1910-1915.

Dengan mengambil ciri gerakan kembali ke asal, esai itu mewakili pandangan kaum tradisionil Kristen yang khawatir kehancuran ajarannya oleh serangan inflitrasi modernisme dalam pemikiran Kristen. Jadi, simpul Barr, fundamentalisme adalah studi yang berfokus pada gerakan fundamentalisme di dalam kekristenan (dan bukan dari agama Islam).

Sebagai sebuah organisasi yang terorganisir, fundamentalisme mulai terjadi pada Gereja-gereja Protestan, khususnya pada Gereja Baptis dan Gereja Presbyterian, di Amerika Serikat pada awal abad 20. Gereja Presbiterian sendiri adalah salah satu denominasi di lingkungan Gereja-gereja Protestan, yang berakar pada gerakan Reformasi pada abad ke-16 di Eropa Barat.

Dari segi doktrin dan ajaran, Gereja Presbiterian mengikuti ajaran-ajaran Yohanes Calvin, Reformator dari Perancis Namun secara kelembagaan, Gereja Presbiterian sendiri muncul dari Skotlandia, sebagai buah pekerjaan John Knox, salah seorang murid dari Calvin.

Karena latar belakang ini, Gereja Presbiterian pada umumnya ditemukan di negara-negara bekas koloni Inggris, seperti Amerika Serikat, Australia, Selandia Baru, India, dan lain sebagainya.

Gereja Presbiterian pun dapat ditemukan di beberapa negara yang kuat dipengaruhi oleh Amerika Serikat, seperti Korea Selatan dan Filipina. Di Indonesia sendiri, Gereja Presbyterian terletak di Jalan Baru Ancol, Jakarta dengan nama Gereja Presbyterian injil Indonesia

Istilah fundamentalisme juga kemudian digunakan untuk para penjaga Injil (evangelikal) dalam golongan Protestan dan juga golongan Karzemy yang tumbuh pesat sebagai satu sekte dalam agama Kristen. Menariknya, awal mengapa penamaan fundamentalisme juga menyeret kaum Evangelis, karena di kalangan Kristen sendiri menolak penamaan fundamentalis. Sebagian kelompok Kristen akhirnya lebih senang ketika mereka disebut dengan Evangelisme Konservatif ketimbang Kristen Fundamentalis itu sendiri.




Menurut sebagian kalangan Kristen, fundamentalisme tidak mewakili dari akidah yang mereka anut, namun hanya untuk golongan dan sekte tertentu. Mereka kadang lebih suka menyebut dirinya dengan "Kristen sejati" atau Kristen saja. Karena setiap kritikan yang ditujukan kapadanya berarti hujatan atas agama itu sendiri. [5]

Oleh karenanya, fundamentalis Kristen akhirnya didefinisikan oleh sejarawan George M. Marsden [6] sebagai Evangelisme Protestan yang militan dan anti-modernis. Marsden kemudian menjelaskan bahwa fundamentalis adalah orang Kristen Evangelis yang pada abad ke-20 melakukan penentangan modernisme baik dalam sisi teologis maupun perubahan budaya modern.

Selain itu, menurut James Barr, fundamentalisme memang digerakkan oleh doktrin Bible untuk hidup secara militan. Barr mengatakan kendatipun posisi Evangelikal umumnya mengakui bahwa keselamatan diperoleh melalui Iman Kristus, namun bagi kaum fundamentalisme, bahwa Iman kepada Krsitus tidak saja cukup. [7]

Jadi, penamaan menjadi fundamentalis adalah hasil dari pertentangan antar golongan moderat Kristen dengan mereka yang keras dalam menafsirkan beberapa ayat Bible. Hal ini menjadi wajar karena dalam Kristen telah terjadi problem teks bible, baik dalam orisinalitas dan metode penafsiran. [8]

Karena faktor inilah kaum Protestan lalu membentuk sejumlah organisasi pada 1902 yang dikenal dengan namaThe Society of The Holy Scripture. Organisasi ini menerbitkan 12 penerbitan dengan nama Fundamentals semata-mata cara kelompok protestan untuk melindungi kitab suci mereka dari proses desakralisasi oleh para penafsir liberal.

Selain The Society of The Holy Scripture, mereka juga mendirikan Lembaga Kristen Fundamentalis Internasional dan Perhimpunan Fundamentalis Nasional pada tahun 1919. Inilah akar fundamentalisme, sebuah pandangan hidup yang lahir sebagai reaksi atas kemajuan ilmu pengetahuan dan penafsiran injil yang menafikan makna literal injil. [9]

Kerancuan Istilah dalam Islam.

Jadi pada dasarnya konteks fundamentalisme tidak pernah memiliki kaitan langsung dengan Islam. Istilah fundamentalisme murni lahir akibat pertentangan diantara teologi Barat itu sendiri.

Lalu bagaimana mungkin ketika Barat saling bertikai, Islam kemudian disuruh ikut campur menyelesaikannya dan terkena getahnya? Inilah yang pernah disinggung Sayyid Quthb dalam kitab Dirosah Islamiyah bahwa adalah mustahil jika Islam disuruh menyelesaikan masalah dunia, sedang Islam sendiri belum dijalankan sepenuhnya.

Bagaimana caranya ketika kerusakan sudah terjadi, Islam menjadi tertuduh dan nertanggung jawab atas semuanya sedangkan Islam belum ditegakkan. Bagi Sayyid Quthb, Islam baru akan menjadi Sistem yang efektif ketika dijaankan sepenuhnya dan tidak setengah-setengah. Sayyid Quthb menulis,




“Pertama-tama jadikan Islam memerintah seluruh kehidupan. Kemudian setelah itu baru diminta pendapat Islam tentang persoalan-persoalan yang ditimbulkan Islam itu sendiri, bukan yang ditimbulkan suatu sistem lain yang bertentangan dengan Islam…. Jadi yang perlu diupayakan adalah laksanakanlah Islam itu sebagai suatu keseluruhan, dalam sistem hukuman pemerintahan, dalam dasar perundang-undangan dan dalam prinsip pendidikan. Baru setelah itu kita dapat melihat apakah masalah-masalah yang ditanyakan itu masih ada dalam masyarakat atau hilangan dengan sendirinya” [10]

Selain itu, konsekuensi logis lainnya akan berimplikasi pada pemaknaan bahasa fundamentalis dalam Islam. Islam tidak mengenal kosakata fundamentalisme, Islam hanya mengenal kata Kaffah, syariat Islam, tauhid, dan lain sebagainya yang memliki jurang pemisah panjang dengan dimensi fundamentalisme dalam Kristen.

Dalam Islam, hambanya hanya mengakui bahwa Allah adalah Tuhan Yang Satu, sedangkan fundamentalisme Kristen, menolak hal itu dimana mereka mengaku bahwa Tuhan adalah Tiga dan Tiga adalah Tuhan. Dalam Islam, Tuhan tidak beranak dan diperanakkan, sedangkan dalam fundamentalisme Kristen justru hal itu harus ditolak, karena bagi mereka Tuhan lahir dari proses persalilnan dan kepercayaan itu harus dijaga seutuhnya. Ketika dia memperharui, maka ia menjadi kafir.

Akhirnya, Islam tidak bisa disebut dengan istilah Islam fundamentalis, sebagaimana Kristen juga tidak bisa disebut dengan Kristen salafi. Islam juga tidak bisa dipanggil dengan nama Fundamentalisme Islam sebagaimana Kristen juga tidak bisa dipanggil dengan Salafi Jihadi Kristen. Islam pun tidak mengalami problem teks Qur’an sebagaimana Kristen mengalami problem terhadap kitab sucinya.

Catatan Kaki

[1] Islam Fundamentalis juga kadang disebut dengan sebutan lain seperti Islam Politik. Dalam sejumlah literatur, berbagai istilah baik itu Islam Politik, “fundamentalisme”, Neo fundamentalisme atau revivalisme Islam memiliki substansi yang sama. John Esposito misalnya menyamakan istilah Islam Politik dengan “fundamentalisme Islam” atau gerakan-gerakan Islam lainnya. Lihat Riza Sihbudi,Menyandera Timur Tengah, (Jakarta: Mizan, 2007) h. 24

[2] Lebih lengkap baca, Nuim Hidayat, Imperialisme Baru,(Jakarta: GIP, 2010)

Selain itu menurut Karen Armstrong, fundamentalisme tidak hanya terdapat pada agama seperti Islam, Kristen, Yahudi melainkan juga terdapat dalam agama Hindu, Buddha dan bahkan agama Kong Hu Chu, yang sama‑sama menolak butir‑butir budaya liberal, melakukan kekerasan atas nama agama‑maupun membawa sakralitas agama ke dalam wilayah politik dan negara. Lihat, Karen Armstrong,Berperang Demi Tuhan; Fundamentalisme Dalam Islam, Kristen Dan Yahudi, Terj. Satrio Wahono, dkk. (Bandung & Jakarta: Mizan & Serambi Ilmu Semesta, 2000), hlm. x.

[3] DR. Haidar Ibrahim Ali. Al Ushûliyyah; Al Târîkh Wa Al Ma’na.

[4] James Barr. Fundamentalisme, (Jakarta: BPK Gunung Mulia.) Hal. 1-2. James Barr adalah Guru Besar Bahasa Ibrani di Universitas Oxford. Ia disebut-sebut peletak dasar kajian tentang fundamentalisme.

[5] Haidar Ibrahim Ali, op.cit

[6] George Marsden adalah seorang sejarawan yang telah banyak menulis tentang interaksi antara Kristen dan budaya Amerika, terutama pada Kristen Evangelikalisme.

[7] James Barr, op.cit, h. 378.

[8] I.J. Satyabudi, alumnus Universitas Kristen Satya Wacana, menulis dalam bukunya, Kontroversi Nama Allah, bahwa penemuan arkeologi biblika sejak tahun 1890 M, sampai 1976 M, telah menghasilkan 5366 temuan naskah-naskah purba kitab Perjanjian Baru berbahasa Yunani yang berasal dari tahun 135 M sampai tahun 1700 M yang terdiri dari 3157 manuskrip yang bervariasi ukurannya.

Dari 5366 salinan naskah itu, jika diperbandingkan, beberapa sarjana Perjanjian Baru menyebutkan adanya 50.000 perbedaan kata-kata. Bahkan ada beberapa sarjana yang menyebutkan angka 200.000-300.000 perbedaan kata-kata. Lihat Adian Husaini, Problem Teks Bible.

[9] Fadhli Ayas, Menguak Fundamentalisme.

[10] Sayyid Quthb, Beberapa Studi Tentang Islam, (Jakarta: Media Dakwah, 2001) h. 101



Laporan Khusus Lainnya

Mewaspadai Bisnis Aktivasi Otak (3-Habis)
Kamis, 28/04/2011 06:46 WIB
Bahan Bakar Revolusi Seluruh Dunia Arab
Rabu, 27/04/2011 08:35 WIB
Generasi Kedua Setelah Ulil: Sejarah JIL Merusak Akidah Islam di Indonesia (5-Habis)
Selasa, 26/04/2011 15:29 WIB
Mewaspadai Bisnis Aktivasi Otak (2)
Senin, 25/04/2011 13:07 WIB
Infiltrasi Teologi Kabbalah Dalam Psikologi
Jumat, 22/04/2011 07:05 WIB
Mewaspadai Bisnis Aktivasi Otak Anak (1)
Kamis, 21/04/2011 06:27 WIB
Yahudi Dibalik Industri Porno Dunia (Tamat)
Rabu, 20/04/2011 19:14 WIB


artikel ERA MUSLIM
Related Posts Plugin for WordPress, Blogger...